Prasah
Lazimnya mahar atau mas kawin dalam sebuah pernikahan berupa
uang, perhiasan emas, atau pakaian yang mewah. Namun di Desa Sidigede, Welahan,
Jepara, Jawa Tengah, ada tradisi unik
yaitu member mahar berupa seekor kerbau. Warga berusaha membuat kerbau mengamuk
dengan berbagai cara. Seperti suara petasan yang mengagetkan. Meski sudah
diikat di beberapa sisi, kerbau gemuk itu terus mengamuk dan mencoba menyerang
orang-orang. Belasan orang yang memegang tali pengikat kerbau sempat kewalahan.
Warga Sidigde menyebut Tradisi unik
tersebut “Prasah”.
Kerbau akhirnya bisa ditenangkan dan diarak ke rumah mempelai wanita. Dan
kerbau jantan itu adalah maharnya.
setelah sempat tenang, di tengah jalan kerbau kembali mengamuk dan memaksa
orang-orang waspada penuh. Warga baru bernapas lega setelah kerbau bisa
digiring sampai halaman rumah mempelai perempuan.
Dengan sampainya kerbau ke rumah mempelai perempuan, mempelai pria berhasil
menunjukkan kejantanan dan martabat keluarganya di mata keluarga calon istri.
Membuat dan menaklukkan kerbau mengamuk atau prasah adalah tradisi dalam
prosesi pernikahan di Desa Sidigede. Tradisi ini berakar dari hikayat Jaka
Tingkir, pemuda desa yang berhasil menaklukan seekor kerbau gila dan diangkat
jadi panglima kerajaan hingga bisa menikahi putri Raja Demak.
Selain menaklukkan kerbau sebagai mahar, dalam tradisi pasrahan pengantin di
Desa Sidigede, mempelai pria juga membawa seperangkat peralatan memasak serta
lemari jati.
Dulu, mempelai pria Desa Sidigede yang akan mempersunting gadis selalu membawa
kerbau berukuran besar. Kini, seiring perjalanan waktu dan kian mahalnya harga
kerbau, hanya warga kaya saja yang masih menjalankan tradisi pasrahan dengan
mengarak kerbau yang mengamuk.

EmoticonEmoticon